Selasa, 25 Oktober 2011

Cerpen Anak


                 Akibat Jajan Sembarangan


Doni termasuk anak yang pintar dan baik. Ia selalu mendapat nilai seratus. Suatu hari, di depan halaman sekolah, Doni merasa haus. Huh! Panas sekali siang ini, aku ingin minum. Tetapi aku tidak membawa minum. Gumamnya dalam hati.
Setelah sampai dirumah, ia cepat-cepat pergi ke meja makan untuk mengambil minum. Glek! Glek! Glek!
Aduh! Doni meminum air terburu-buru, jadi ia tersedak.
Mama sering menasihati Doni agar tidak jajan sembarangan.“Doni! Kalau di sekolah, jangan jajan sembarangan, ya!”
“Iya, ma. Doni nggak suka jajan sembarangan, kok.”
   Seperti biasanya, Doni bangun pagi-pagi. Supaya tidak terlambat, ia memang anak yang disiplin.
Siang, saat ditengah perjalanan pulang menuju rumahnya, ia merasa haus sekali. Terpaksa, ia membeli minuman dingin di warung kecil. Tempatnya jorok sekali, makanan yang ada disana selalu dihinggapi banyak lalat. Selain tempatnya seperti itu, minumannya juga memakai bahan pewarna. Tanpa memedulikannya, Doni segera meminumnya.
Saat ia sedang tidur-tiduran di sofa, tiba-tiba perutnya terasa sakit. “Mama …! Mama …!” teriak Doni sambil memegang perutnya yang kesakitan.
   Mama berlari menghampirinya. “Ada apa, sih, Doni?” tanya mama. “Ini , ma, perut Doni sakit,” jelasnya.
“Ya, sudah, mama antar kamu ke puskesmas, ya!”
Kemudian mamanya mengantarkan Doni ke puskesmas.
Setelah diperiksa, ternyata Doni itu sakit diare.
Dirumah, mamanya berkata. “Doni, memangnya kamu itu memakan apa, sampai sakit diare begitu?” dengan rasa malu, Doni bilang pada mamanya. “Maaf, ma, tadi siang Doni sempat membeli minuman diwarung kecil.” Mama menggeleng-gelengkan kepala. “Doni, kan, mama sudah bilang, jangan jajan sembarangan.” Doni menyesal dan menundukan kepalanya.
“Ya sudah, mulai sekarang, jangan jajan sembarangan lagi, ya!” kata mamanya memaafkan perbuatan Doni.
“Kalau lalat hinggap dimakanan, maka makanan tersebut sudah tidak boleh dimakan lagi. Karena, lalat tersebut sudah hinggap ditempat sampah, atau dimana saja.” Mama menerangkan. Doni hanya mengangguk-angguk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar